Emas Sangat Menjanjikan Sebagai Sarana Investasi Jangka Panjang

Emas menarik karena keindahannya, prestisenya, serta daya tahannya menghadapi inflasi. Kemampuannya memberi keuntungan bagi pemiliknya juga tidak kalah dibandingkan instrumen investasi yang lain. Sayangnya, sudah sekian lama emas tereduksi hanya sebagai perhiasan (jewelry) atau barang koleksi semata. Padahal emas pun sangat menjanjikan sebagai sarana investasi jangka panjang.

Harga emas memang sudah tinggi. Mungkin muncul keraguan, apakah ini saat yang tepat untuk membeti? Ada pendapat yang mengatakan, tunggu dulu harga terkoreksi. Belilah pada saat harga cukup rendah. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa untuk jangka panjang, tidak ada harga yang terlalu mahal. Kalau harga emas dunia masih di bawah US$ 1.000 per troy ounce, itu sudah tergolong murah. Sebab harga aktualnya sudah mendekati US$ 2.000.

Pendapat itu ada benarnya. Sebab, ada kemungkinan krisis akan terjadi dalam jangka panjang. Kalau pun perekonomian kembali normal, tidak ada jaminan bebas selamanya dari ancaman krisis dan inflasi.

Karena krisis masih terus akan terjadi dalam perekonomian (baik global maupun lokat), maka memiliki cadangan emas tentu semakin terasa penting. Motifnya sudah bukan lagi hedging, melainkan juga mengembangbiakkan nilai aset. Bukan hanya berjaga-jaga, tetapi juga mencari laba.

Investasi yang Tepat di Negara yang Rawan Krisis

Seorang investor memilih beli tanah, karena harga tanah tak pernah turun. Alasan yang bagus. Dia pun membeli sepetak kavling tanah seharga Rp 100 juta. Ditambah biaya-biaya, dia mengeluarkan uang Rp 108 juta. Malangnya, setahun kemudian dia butuh uang. Dia menjual tanah itu seharga Rp 125 juta.

Sebulan berlalu, tidak ada yang menawar tanah itu lebih dari Rp 110 juta. Akhirnya, dengan negosiasi yang alot, tanah itupun dilepas dengan harga Rp 112 juta. Apakah dia memperoleh laba?

Tidak. Sebab dari Rp 112 juta yang diterimanya, dia harus mengetuarkan Rp 2 juta (atau 2 persen) untuk maketar, Rp 5 juta sebagai pajak penjual, dan Rp 2 juta lagi sebagai biaya Man dan operasional. Sang investor merugi Rp 5 juta.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa investasi properti tidak akan memberi hasil maksimal (malah mungkin merugi) kalau waktunya hanya satu tahun. Memang, harga tanah itu akan berlipat ganda. Tetapi dalam jangka waktu yang lama. Mungkin lima tahun, 10 tahun, atau bahkan 20 tahun.

Bunga deposito dan tabungan di bank akan tergerus inflasi. Begitu pula ORI, obligasi yang diterbitkan pemerintah untuk investor ritel. Harga saham selalu toyo pada saat inflasi tinggi dan bunga terkerek naik. Lantas, apa alternatif investasi yang amen di negeri yang rawan krisis seperti Indonesia?

Emas adalah jawabannya.

Banyak yang mengatakan emas bukanlah investasi, karena hanya efektif sebagai alat hedging atau lindung nilai. Ketika ekonomi melaju normal, harga emas stagnan. Baru ketika ada tanda-tanda krisis, harga emas akan membubung tinggi.

Pendapat itu betul. Tapi justru karena krisis itu telah sedemikian melekat dalam sistem ekonomi kita, makin pentinglah investasi emas. Bagaimanapun, perekonomian tak bakal mulus sepanjang dekade. Dalam sepuluh tahun, biasanya terjadi satu kali krisis besar, dan 1-2 kali krisis kecil hingga menengah. Itu berarti, seorang investor harus memiliki emas dalam portofolio investasinya.

Seorang investor di kota besar bisa saja menempatkan 60 persen uangnya ke saham, tapi ia harus punya cadangan emas minimal 20 persen dari seluruh investasinya. Seorang kaya di desa mungkin memiliki 100 hektar tanah dan ratusan ternak, tetapi toh ia mengoteksi perhiasan emas sebagai cadangan kalau memerlukan uang mendadak. Seorang pengusaha sektor riil mungkin saja memiliki 50 outlet minimarket, tetapi dia juga harus punya emas lantakan untuk melindungi seluruh asetnya.

Mengapa? Sebab krisis ekonomi akan membuat saham hancur dan properti tidak laku dijual (karena uang beredar jadi sangat ketat). Krisis ekonomi kadangkala dibarengi kerusuhan sosial, sehingga mungkin saja orang-orang menjarah minimarket. Jika krisis datang, orang-orang yang memiliki cadangan emas relatif bisa mengamankan kekayaannya. Sebab dalam situasi krisis, harga emas terus melambung. Pada saat krisis, menjual emas tetap saja semudah membalikkan telapak tangan.

Bukan Asal Menabung

Cara gampang untuk menabung adalah menyisihkan uang untuk disimpan di bank. Tapi, pelan-pelan, uang tabungan kita akan habis. Bukan habis dikonsumsi, tetapi habis tergerus inflasi. Bukankah sangat menyakitkan, ketika uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit itu akhirnya kehilangan sebagian besar nilainya hanya karena inflasi?

Karena itu, manusia modern lebih memilih investasi daripada sekadar menabung. Dunia keuangan masa kini menawarkan banyak alternatif investasi. Ada banyak tawaran investasi pada deposito, obligasi, properti, saham, emas, reksadana, indeks Hang Seng, asuransi unit-linked, sampai dinar Irak dan profit sharing di sektor riil. Semua menawarkan keuntungan, semua mengandung risiko. Makin tinggi keuntungannya, makin besar risikonya.

Seringkali kita tebih silau pada keuntungan dan melupakan risiko. Banyak investor yang membeli saham karena ingin mendapat return 50 persen per tahun, tapi justru kecewa karena harga saham ternyata turun 60 persen. Banyak juga yang senang mendapat penghasilan bunga deposito 8 persen setahun, padahal inflasi mencapai 12 persen. Di saat lain, para deposan senang pada saat inflasi hanya 6 persen. Tapi penghasilan bunga yang mereka terima hanya 4 persen setahun.

Bank tidak bodoh. Mereka hampir selalu menetapkan bunga di bawah laju inflasi. Kalau ada bank yang mematok bunga lebih tinggi dari inflasi, justru calon nasabah menjadi curiga. Adakah yang tak beres dengan bank tersebut? Apakah bank itu mengalami krisis likuiditas sedemikian parah-dan menghadapi hantu likuidasi? Kalau likuidasi menjadi kenyataan, para deposan bukan hanya kehilangan telurnya. Mereka juga akan terancam kehilangan induk ayamnya.

Emas adalah pilihan tepat untuk menabung dengan tujuan tertentu, yaitu menyimpan nilai aset. Fakta membuktikan, pada tahun 1990-an diperlukan 300 gram emas untuk membayar ongkos naik haji. Tidak sampai duapuluh tahun kemudian, seseorang hanya perlu menjual 120 gram emas untuk keperluan yang sama.

Belum Terlambat untuk Beli Emas

Kegiatan ekonomi manusia hanya dua macam, yaitu produksi dan konsumsi. Ketika kita bekerja, berarti kita sedang memproduksi sesuatu. Setelah menerima gaji, kita akan mengonsumsi sesuatu dengan uang penghasilan kita. Ketika kita mengonsumsi sesuatu, berarti kita menghabiskan ni(ai guna atau manfaat dari barang/jasa yang kita konsumsi.

Tentu saja, uang yang kita terima sebaiknya tidak langsung dihabiskan. Ada sebagian nilai guna atau manfaat yang tidak langsung kita habiskan saat ini. Kita menyimpannya untuk kemudian hari. Menyimpan ni(ai guna atau manfaat itulah yang dimaksud dengan menabung.

Namun, dalam dunia yang kian rumit saat ini, menabung pun memerlukan keahtian khusus. Kalau hanya asal menabung, uang kita akan habis dengan sendirinya tanpa terasa.

Menuai Keuntungan dari Emas Simpanan

Sebaiknya, emas tidak dijual sampai kapan pun. Sebab komoditas ini harganya akan terus meroket dalam jangka panjang. Lagipula, siapa yang bisa menjamin bahwa negeri kita selamanya terbebas dari krisis ekonomi? Bayangkan kalau uang kertas sudah tak lagi bernilai, saham nitainya not, maka emas simpanan kitalah yang akan menyelamatkan hidup kita.

Ini bukan berarti menjual emas adalah tindakan yang tidak rasional. Suatu ketika, kita harus menjual emas. Mungkin untuk kegiatan yang lebih produktif. Atau pada saat harga emas berada pada titik tertinggi dalam fluktuasi jangka pendek, sehingga kita harus melakukan aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek.

Sebelum menjual emas, carilah lebih dahulu informasi terkini mengenai harga emas dan kecenderungan jangka pendeknya ke depan. Media massa selalu melaporkan perkembangan harga emas terbaru, sekaligus analisisnya terhadap kemungkinan perkembangan harga beberapa waktu mendatang. Kita juga bisa meneropong tren harga emas di internet, misalnya melalui situs Kitco, Goldprice, atau UBS Gold.

Setelah tahu persis pergerakan harga emas, barulah kita memilih tempat menjual. Emas bersertifikat selalu diterima di mana pun. Emas 24 karat lebih mudah dijual daripada 18 karat. Emas dengan sertifikat akan dihargai lebih tinggi. Perhiasan emas yang modelnya masih bertahan, juga akan lebih mudah dijual.

Usahakan untuk menjual kembali di tempat kita membeli sebelumnya, apalagi bila kuitansi pembelian masih ada. Jika ada perjanjian buyback guarantee, cobalah mencari informasi apakah harganya sudah terbaik. Tapi bila ada tempat lain yang bersedia membeli dengan harga lebih tinggi, abaikan saja garansi itu. Jika menjual ke Logam MuliaAneka Tambang, konon ada kemungkinan harganya sedikit lebih tinggi daripada di toko emas biasa.

Prosedur menjual emas sangat sederhana, mirip menukar uang di money changer. Kita tinggal membawa emas yang akan dijual, kemudian pihak toko emas akan meneliti kadarnya. Setelah itu, kita bisa menerima uangnya sesuai harga yang berlaku saat itu. Masalah akan muncul pada saat harga emas berfluktuasi. Jika ini terjadi, mungkin ada perubahan harga antara jam sembilan pagi (saat toko buka) dan jam satu siang. Tapi biasanya, perbedaannya tidak terlalu besar.

Menyewa Safety Deposit Box

Jika jumlah emas yang kita miliki tak seberapa, emas memang cukup disimpan di rumah. Tapi kalau jumlahnya sudah cukup banyak, mulailah terasa tidak nyaman. Sekaranglah saatnya untuk menyewa SDB (safety deposit box). Hampir setiap bank memiliki fasilitas ini bagi nasabah untuk menyimpan barang-barang berharga, termasuk emas dan surat wasiat.

Ketemahan dari SDB adalah hanya terbuka di hari kerja. Kalau bank libur, kita tidak memiliki akses untuk mengambit barang milik kita sendiri. Selain itu, menyewa SDB berarti mengeluarkan biaya. Biaya sewa SDB bervariasi. Di kota-kota besar, biaya sewanya berkisar antara Rp 100.000 sampai Rp 1,5 juta per tahun. Di kota kecil, biaya sewa SDB antara Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta. Di luar biaya sewa, ada uang deposit atau jaminan sekitar Rp 5000 ribu di kota besar dan Rp 400 ribu di kota kecil (Tabloid Kontan Minggu V, Oktober 2008, hlm. 25). Uang jaminan tersebut akan dikembalikan kepada nasabah kalau masa sewa habis dan nasabah tidak memperpanjang sewa.

Bank umumnya memiliki fasilitas keamanan superketat untuk jasa penyewaan SDB. Untuk membuka brankas, bank memberlakukan syarat berlapis. Berikut ini prosedur-prosedur pengamanan standar yang diberikan bank terhadap safety deposit box:

  • Ketika akan membuka safety deposit box, pemilik brankas harus mampu menunjukkan identitas lengkap sebagai bukti pemilik.
  • Ruang tempat menyimpan kotak-kotak itu dilengkapi kamera closed-circuit (CCTV) yang selalu mengintai gerak-gerik pengunjung maupun petugas jaga.
  • Bank hanya menyediakan dua kunci. Kunci master dipegang bank, dan satu kunci dipegang nasabah. Kotak hanya bisa dibuka kalau kedua kunci itu dimasukkan bersama-sama ke lubang kunci. Kotak tidak akan terbuka jika hanya menggunakan satu kunci.
  • Bank tak pernah membuat kunci duplikat.
  • Setelah brankas dibuka, petugas bank akan langsung meninggalkan nasabah sendirian.
  • Brankas yang disediakan bank tersebut tahan congkelan dan tahan api, sehingga aman dari mating dan kebakaran.

SDB adalah cara penyimpanan yang paling aman. Memang, ada beberapa kasus di mana nasabah mengaku kebobolan benda-benda berharga yang telah disimpan di SDB. Kemungkinan itu selalu saja terjadi. Sistem keamanan seketat apa pun pasti akan jebol kalau si maling bekerjasama dengan orang dalam.

Karena itu, pilihlah bank yang reputasinya bagus. Pilihlah bank yang tidak memiliki track record kebobolan. Untuk pengamanan berlapis, gunakanlah jasa asuransi. Sehingga kalau terjadi apa-apa, kita tidak kehilangan seluruh aset yang ada di dalam kotak penyimpanan.