Emas Adalah Uang, Tetapi Uang Bukanlah Emas

Kalau berbicara mengenai emas, saya jadi teringat sebuah hadits yang memberi logika pada saya soal nilai emas yang tidak berubah. Berikut saya kutip hadits tersebut.

“Ali Bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan men­ceritakan kepada kami, Syahib Bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata: Saya mendengar penduduk bercerita tentang Urwah, bahwa Rasulullah saw memberikan uang satu dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau. Lalu, dengan uang tersebut, ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu dinar. Ia pun pulang membawa satu dinar dan seekor kambing. Rasulullah saw mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya Urwah membeli debu pun, ia pasti beruntung. ” (HR. Bukhari).

Dari hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada zaman Rasulullah saw, harga pasaran kambing adalah satu dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah orang yang sangat adil. Beliau tidak akan meminta Urwah untuk membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebih.

Memang, Urwah bisa membeli dua ekor kambing dengan uang satu dinar. Tapi ini dikarenakari kepandaiannya sebagai pedagang dalam hal tawar-menawar. Terbukti, pada akhirnya ia menjual salah satu kambingnya tersebut dengan harga satu dinar.

Pada akhir 2009, harga 1 koin dinar emas berkisar antara Rp1.400.000-1.500.000. Dengan uang sebesar itu, Anda juga bisa mendapatkan seekor kambing, bukan?

Gambaran tersebut membuktikan bahwa emas sama sekali tidak terpengaruh inflasi. Coba bandingkan dengan nilai mata uang yang terus menurun setiap tahun. Pada 1970 an, harga seekor kambing hanya Rp7.000. Sekarang, dengan nominal yang sama, jangankan untuk membeli seekor kam­bing, untuk seporsi sate kambing pun tidak cukup.

Contoh lain, sejak pemerintah Indonesia menyeleng­garakan ibadah haji, ongkos naik haji tidak pernah bergeser dari 30-33 dinar emas. Ini merupakan bukti nyata bahwa emas selalu stabil, sedangkan nilai mata uang kita justru naik-turun.

Koin dinar emas sebagai mata uang umat Islam, sampai sekarang masih diproduksi. Berdasarkan penelitian ilmiah dengan ditemukannya bukti-bukti sejarah, diambil kesimpulan bahwa 1 koin dinar emas setara dengan 4,25 gram emas 22 karat.

Berbeda dengan uang kertas yang hanya bisa dicetak clan berlaku di negara masing-masing, dinar emas bisa dicetak clan berlaku di negara mana pun.Asalkan, pembuatannya memenuhi ketentuan clan syariat Islam, yaitu dengan 4,25 gram emas 22 karat. Biasanya, negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam mencetak koin dinar emas sendiri. Indonesia, misalnya, mencetak dinar emas melalui PT ANTAM. Berikut ini contohnya.

Dari pembahasan tersebut, dapat dilihat bahwa emas sama sekali tidak terpengaruh oleh inflasi (zero inflation). Memang, harganya terlihat cenderung fluktuatif. Tapi sebenarnya, yang naik-turun bukanlah emas, melainkan nilai mata uang. Ketika harga emas turun, semua harga komoditas turun. Ketika emas naik, semua harga komoditas pun otomatis akan naik.

Di sebuah seminar Kebun Emas, seorang peserta pernah bertanya,”Bagaimana kalau hari ini saya membeli emas seharga Rp300.000/gram dan satu tahun kemudian harga emas tersebut turun menjadi Rp100.000/gram. Berarti, saya rugi Rp200.000/gram, Pak?”

Sebagai investor emas, sebenarnya Anda tidak pernah rugi. Karena, sekalipun harga emas menjadi Rp100.000/gram, Anda masih bisa membeli barang dengan kualitas dan jumlah yang sama dengan ketika emas itu seharga Rp300.000/gram.

Jadi, kapan saat yang tepat untuk membeli emas? Sebenarnya, sederhana saja. Saat yang tepat untuk membeli emas adalah ketika Anda mempunyai uang. Dan, saat yang tepat untuk menjualnya adalah ketika Anda membutuhkan uang.