Emas Sebagai Sarana Melindungi Kekayaan

Uang adalah kepercayaan. Dalam lembaran dolar AS, kita bisa membaca tulisan “in God we trust”. Mungkin tulisan itu bermak­sud untuk mengingatkan masyarakat bahwa manusia seharusnya ber iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan kepada uang yang ma­hakuasa. Tapi di sisi lain, kata-kata itu juga mengandung makna bahwa nilai uang terkait dengan kepercayaan (trust). Tanpa trust, maukah kita menyimpan daya beli pada selembar kertas berholo­gram, yang notabene tetap saja merupakan barang cetakan?

Semakin besar kepercayaan orang terhadap sebuah mata uang, maka nilai mata uang itu semakin tinggi. Begitu juga sebaliknya. Mungkin cuma sedikit di antara kita yang mau menukar uang rupiah dengan mata uang salah satu negara Afrika paling terpeneil yang namanya masih asing bagi kita. Mengapa? Sebab kita tidak memercayai mata uang itu. Banyak di antara kita yang gembira menerima gaji dalam dolar AS, sebab kita memercayai si hijau dari Amerika itu.

Itu semua dalam kondisi ekonomi normal. Ketika ekonomi se­dang bergejolak, ceritanya akan jadi lain. Sekarang, sulit bagi kita untuk memercayai satu pun mata uang. Krisis moneter 1998 mem buat kita lebih memercayai dolar AS. Waktu itu, pemerintah Orde Baru sempat memaksa kita mencintai rupiah. Tapi kita telanjur jatuh cinta pada si hijau dari Amrik itu. Akibatnya, kurs dolarAS terhadap rupiah melambung empat kali lipat.

Kini, dolar AS yang terancam kehilangan kepercayaan. Setelah melemah secara konsisten terhadap euro, terkuaknya borok-borok finansial Paman Sam membuat kita berpikir panjang untuk menimbun kekayaan dalam dolarAS. Para pengelola institusi keuangan di sana mulai tidak jujur-sejak kasus Enron sampai Lehman Brothers-dan itu sangat memengaruhi kepercayaan orang di seluruh dunia. Bagai­mana kalau ternyata dolar AS overvalued (terlalu tinggi nilainya) terhadap hampir seluruh mata uang lain di dunia?

Mungkin euro lebih konsisten. Tapi, bukankah perekonomian Eropa sangat tergantung pada Amerika? Walaupun cenderung me­nguat terhadap dolar AS, namun euro memiliki kaitan erat dengan fluktuasi dolarAS. Keduanya, sebagai mata uang kertas, bisa runtuh berbarengan ke dasarjurang.

Pada saat kepercayaan terhadap mata uang kertas menurun, nilai emas cenderung meningkat. Orang tidak pernah kehilangan kepercayaan terhadap emas. Emas adalah emas, makin tinggi inflasi makin mahal harga emas. Makin mahal harga BBM, makin tinggi harga emas. Jika berlian merupakan simbol keabadian cinta, maka emas merupakan perlambang keabadian nilai aset. Emas adalah mata uang yang tak pernah mengatami depresiasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s