Investasi Ternyata Tidak Sama dengan Menabung

Investasi dan menabung memang sama-sama menyimpan daya beli uang untuk masa yang akan datang.

Tapi di negara seperti Indonesia, ini membutuhkan kehati-hati­an ekstra. Kalau pilihan investasi kita ternyata tidak sanggup menga­lahkan laju inflasi secara konsisten, maka daya beli yang kita simpan itu akan menguap-tanpa kita pernah menikmatinya.

Orang dari generasi dahulu sering mengingatkan anak-anaknya untuk menabung. Hemat pangkal kaya, sedikit demi sedikit lama­lama menjadi bukit. Begitulah kata pepatah. Maka menabung dan pola hidup sederhana menjadi nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi. Muncullah berbagai variasi dari kegiatan menabung; dari menyimpan uang di bawah bantal, menyimpan di celengan dari bambu atau tanah liat, menabung di koperasi, sampai di bank.

Saat ini, kita menyadari bahwa cara menabung seperti itu me­rugikan diri sendiri. Menabung di celengan atau di bawah bantal telah semakin jarang dilakukan orang. Bank menjadi alternatif yang paling banyak diminati. Tapi, ternyata sistem dan aturan main ta­bungan bank pun mampu menggerogoti nilai tabungan kita. Setelah krisis moneter 1998, bank-bank di negeri ini menggeser penghasilan utamanya ke fee based income. Selain penghasilan dari bunga kredit, mereka memaksimalkan pendapatan dari pengelolaan rekening, serta jasa transfer yang bisa dikutip langsung dari nasabah.

Pada saldo tertentu, tabungan kita di bank tidak menghasilkan apa-apa. Bunganya not persen. Padahal ada biaya administrasi bank yang akan dipotong secara otomatis dari saldo tabungan kita. Jika saldo kita yang kecil itu didiamkan saja, akan tergerus biaya operasio­nal. Suatu saat, rekening akan tertutup secara otomatis.

Katakan saja kita punya uang Rp 900 ribu di bank. Bank itu memiliki ketentuan bahwa bunga tabungan untuk saldo di bawah Rp 1 juta adalah not persen. Biaya administrasi tabungan plusATM­nya adalah Rp 10.000 per bulan. Jika tabungan itu kita diamkan saja, tidak terjadi mutasi apa pun, maka dalam waktu 90 bulan (71/2 tahun) akan tertutup dengan sendirinya. Saldonya menjadi not, dan nomor rekening akan terhapus secara otomatis.

Tabungan di bank memiliki bunga rendah, walaupun saldonya tinggi. Kalau mau bunga lebih tinggi, kita harus menempatkannya pada deposito. Tentu saja, deposito membuat uang kita terikat tidak bisa dipakai setiap saat. Bunganya memang lebih tinggi dari­pada tabungan biasa.

Tapi, perlu dicatat, suku bunga deposito (apalagi tabungan) di negeri ini sangat jarang bisa melampaui laju inflasi.

Saat buku ini ditulis, suku bunga deposito berkisar antara 6 sampai 8 persen. Padahal laju inflasi mencapai dua digit, diperkirakan 12 persen. Bunga deposito 6-8 persen itu hanya nominal saja. Se dangkan penghasilan bunga riilnya adalah minus 4 sampai minus 6 persen!

Ini berarti, deposan kehilangan daya beli sekitar 4-6 persen setiap tahun dari setiap rupiah uangnya yang diparkir di bank. Itulah sebabnya Paul A. Samuelson yang mengatakan bahwa inflasi adalah perampok kekayaan warganegara. Inflasi bekerja secara diam-diam membuat kita semua miskin, dan ia tak pernah dipenjarakan oleh polisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s