Kerugian Menyimpan Emas

Di dunia ini tak ada sesuatu yang tanpa cacat. Di batik segala kelebihan, pasti ada kekurangan. Berikut ini kerugian dari menyim­pan emas, dibandingkan dengan jenis-jenis investasi yang lain:

1. Tidak Memberikan Deviden atau Penghasilan Rutin

Emas tidak memberikan dividen. Pemilik emas juga tidak mem­peroleh penghasilan bunga. Jadi pemilik emas hanya dapat berharap bahwa harga emas akan naik, karena dari situlah sumber keuntungan satu-satunya.

Kadang-kadang, memang ada yang berbisnis menyewakan per­hiasan. Namun jumlahnya tidak banyak. Persewaan perhiasan emas belum menjadi bisnis yang skala ekonominya cukup besar dan kontinu.

Karena tidak menghasilkan deviden atau pendapatan tetap, seringkali emas dikecualikan dari strategi investasi. Tapi dewasa ini, semakin banyak penasihat keuangan yang merekomendasikan emas untuk dimasukkan ke keranjang investasi kita. Fungsi utama­nya adalah sebagai pengaman nilai aset secara keseluruhan, selain untuk mendapatkan capital gain dalam jangka panjang.

2. Ketika Perekonomian Stabil, Kenaikan Harga Emas Cenderung Lambat

Inilah uniknya emas. Pada saat perekonomian stabil, harga emas juga stagnan. Bahkan, rendahnya inflasi di negara maju membuat harga emas (dalam kurs valas) cenderung merosot. Akibatnya, inves tor yang menyimpan terlalu banyak emas datam portofolionya, akan kehilangan kesempatan mengembangbiakkan uangnya pada jenis­jenis investasi yang lain.

Pada saat ekonomi normal, batangan emas tidak lagi menjadi national treasury, melainkan hanya sebagai stockpiled commodity. Orang kembali percaya pada uang kertas, sehingga banyak yang men jual emasnya untuk diputarkan di ladang investasi yang lebih pro­duktif.

Persoalannya, perekonomian tidak selalu berjalan normal. Ada tahun-tahun yang baik, dan ada tahun-tahun yang buruk. Pada saat perekonomian lesu dan inflasi melonjak, harga emas pasti akan me roket. Dalam situasi seperti ini, mereka yang terlambat membeli emas akan mendapati harganya sudah terlalu tinggi.

3. Tidak Fleksibel dan Tidak Praktis

Sebagai sarana menyimpan nilai aset, emas dinilai tidak fleksibel dan tidak praktis. Disebut tidak fleksibel karena mobilitasnya yang rendah-sulit dibawa ke mana-mana. Akibatnya, muncul moving cost atau biaya untuk memindahkannya.

Uang kertas dan saham dinilai lebih praktis, karena tidak terkait dengan mobilitas barang secara fisik. Uang bisa ditransfer secara elektronik, saham pun diperjualbelikan secara elektronik. Tak perlu gudang atau tempat khusus untuk menyimpan uang atau saham.

4. Sebagai Perhiasan, Terbebani Ongkos Pembuatan dan Biaya Susut

Bagaimana pun, emas adalah komoditas. Apalagi yang jenisnya perhiasan. Sebagai perhiasan, tentu ada ongkos pembuatan dan biaya susut yang harus ditanggung konsumen. Itulah sebabnya, Presi den Direktur Padma Radya Aktuaria, Risza Bambang, mengatakan, pembelian emas bukan kegiatan investasi sebab bisa menimbulkan kerugian (Kompos, 30 Juli 2006, hlm 28).

Misalnya, bila dijual kembali, perhiasan emas harganya turun setidaknya 20%. Sebagai contoh, pada Januari 2005 Anda membeli perhiasan emas 100 gram seharga Rp 12 juta. Harganya Rp 100.000 per gram. Jika perhiasan emas itu dijual pada September 2005, Anda akan rugi, walaupun harga emas telah menjadi Rp 115.000 per gram. Kerugian tersebut timbul karena biaya susut dari perhiasan ketika dijual. Penyusutan itu bisa mencapai 20 persen. Jadi, persentase kenaikan harga emas masih lebih rendah dibandingkan dengan biaya susut yang ditanggung pemilik emas.

Membeli perhiasan emas bisa untung jika disimpan dalam waktu lama. Kalau orang hanya menyimpan emas sebentar sebagai tabung­an, pasti menuai rugi kalau menjual kembali. Sebab harga emas relatif stabil pada saat kondisi ekonomi normal, sehingga kenaikannya lam­bat. Tapi dalam kondisi inflasi tinggi dan resesi, harga emas cepat melambung tinggi.

5. Memerlukan “Handling”, Biaya Penyimpanan dan Perawatan Khusus

Tidak praktis dan tidak efisien adalah kelemahan utama emas­baik emas batangan maupun koin emas. Selain asuransi, pemilik emas harus mengeluarkan biaya untuk menyewa safe deposit box. Untuk memindahkannya, diperlukan moving cost dan biaya penga­manan.

Masalah penyimpanan (storage) emas dan handling memerlukan upaya khusus. Menyimpan “hard asset” seperti emas relatif berisiko dan mahal. Selain itu, apabila penyimpanan kurang baik, walau di bungkus protective cover, masih bisa terjadi oksidasi dan perubahan warna.

Untuk emas yang bentuknya koin dan batangan, juga diperlukan kehati-hatian dalam menyimpan. Katau koin atau batangan itu jatuh dan cuil (chipped), suli.t untuk diperbaiki. Harga jualnya akan berku rang. Jadi, emas kurang cocok buat mereka yang ceroboh atau sem­brono.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s