Prinsipnya Adalah Menunda Konsumsi

Hakikat dari investasi pada prinsipnya sama dengan menabung. Yaitu menyimpan nilai atau manfaat uang untuk digunakan suatu saat di masa depan. Itulah sebabnya, dalam ilmu ekonomi, I (invest­ment) disamakan dengan S (saving).

Misalkan saja kita menabung di bank. Uang yang kita taruh di bank itu tentu saja tidak selamanya ada di brankas. Oleh pihak bank, uang itu akan disalurkan kepada perusahaan atau pengusaha yang melakukan investasi. Jadi ujung-ujungnya, uang itu akan dipakai untuk investasi.

Rumus yang menyatakan hubungan antara penghasilan, kon­sumsi dan investasi atau tabungan adalah sebagai berikut:

Y = C + I/S

Sumber tabungan atau investasi adalah penghasilan (disimbol­kan dengan Y atau income). Sedangkan simbol C adalah consump­tion (konsumsi) atau nilai uang yang dihabiskan saat ini untuk me menuhi berbagai keperluan. Konsumsi adalah segala aktivitas yang bersifat menghabiskan nilai guna (utility) suatu produk, entah be­rupa barang atau jasa.

Idealnya, seseorang bisa menyisihkan 30 persen dari pengha­sitannya untuk tabungan atau investasi. Angka 30 persen itu adalah proporsi rata-rata, di mana setiap orang bisa tetap hidup dengan layak sambil menabung atau investasi.

Misalnya, Vera memitiki gaji Rp 1.500.000, maka idealnya rumus di atas akan menjadi sbb:

Y = C + I/S
Rp 1.500.000 = Rp 1.050.000 + Rp 450.000

Biasanya, semakin besar penghasilan seseorang, maka persen­tase investasi/tabungannya akan lebih besar. Kalau Vera berhasil mendapat penghasilan tambahan Rp 1 juta di luar gaji, proporsi konsumsi dan investasinya mungkin akan berubah. Secara nominal, konsumsi akan naik. Tapi secara proporsional (persentase), bisa naik bisa juga turun. Karakter seseoranglah yang paling menentukan. Orang yang rasional tidak akan menaikkan konsumsinya melebihi kenaikan pendapatannya. Sebaliknya, orang yang tidak rasional se­ringkali menaikkan konsumsinya melebihi penghasilannya. Bahkan, mereka “menggadaikan pendapatan di masa depan” dengan berbe­lanja menggunakan uang pinjaman.

Misalkan saja Vera adalah orang yang tidak rasional. Dia sudah bosan naik busway untuk pergi ke kantor. Karena penghasilannya naik 67 persen, ia memutuskan untuk mengkredit mobil bekas de­ngan angsuran Rp 1.200.000 per bulan.

Maka, rumusnya adalah sebagai berikut:

Y = C + I/S
Rp 2.500.000 = Rp 2.250.000 + Rp 250.000

Di sini justru terjadi penurunan persentase investasi atau ta­bungan, dari 30 persen menjadi 10 persen. Secara nominal, juga terjadi penurunan investasi atau tabungan dari Rp 450.000 menjadi Rp 250.000. Yang naik tajam adalah konsumsinya, dari Rp 1.050.000 menjadi Rp 2.250.000. Memang tidak semuanya habis dipakai, karena ada sebagian yang sifatnya merupakan pelunasan utang (leasing mobil). Tapi, tetap saja itu adalah pengeluaran.

Sebaliknya, jika Vera termasuk orang yang rasional, ia terlebih dulu mengamankan investasinya. Minimal, persentase investasi tidak berubah (tetap 30%). Dengan demikian, rumusnya akan menjadi se­bagai berikut:

Y = C + I/S
Rp 2.500.000 = Rp 1.750.000 + Rp 750.000

Dengan proporsi yang sama, terjadi kenaikan nominal baik di sisi konsumsi maupun investasi/tabungan. Ini berarti, kesejahteraan Vera saat ini meningkat, tabungan atau simpanan daya belinya untuk masa depan juga meningkat.

Jika Vera cenderung menyimpan kenaikan pendapatannya un­tuk masa depan, dia akan mengalokasikan seluruhnya untuk tabungan atau investasi. Konsumsinya tetap pada angka nominal saat pengha silannya belum bertambah. Budget konsumsinya dipatok tetap Rp 1.050.00, sehingga rumusnya akan menjadi sbb:

Y = C + I/S
Rp 2.500.000 = Rp 1.050.000 + Rp 1.450.000

Tampak bahwa persentase konsumsi Vera turun dari 70 persen menjadi 42 persen, walaupun nominalnya tetap Rp 1.050.000. Tapi investasinya naik tajam dari 30 persen menjadi 58 persen (secara proporsional) atau dari Rp 450.000 menjadi Rp 1.450.000 (secara nominal).

Itu berarti, Vera berhasil mengalokasikan lebih banyak dana untuk tabungan/investasi. Logikanya, bertahun-tahun yang akan datang ia akan memiliki aset lebih besar daripada rekan-rekannya yang tidak bisa menabung/investasi. Uang Rp 1,45 juta per bulan yang disisihkan Vera dari penghasilannya itu akan memiliki nilai yang berlipat ganda bertahun-tahun kemudian.

Pertanyaannya, apakah kemudian kehidupan Vera di kemudian hari akan menjadi lebih sejahtera?

Seharusnya, Vera memang lebih sejahtera. Toh ia sudah berkor­ban pada diri sendiri untuk menunda membeli mobil. la sudah me­nomorduakan kenikmatan memitiki mobil. Kalau mau fair, ia seharus­nya lebih sejahtera.
Tapi jawabnya: belum tentu.

Semua tergantung pada pilihan investasi yang diambil Vera. Semua tergantung pada apakah investasi Vera akan sanggup mena­klukkan inflasi, atau bahkan kehilangan nilainya pelan-pelan karena gerusan inflasi.

Di Indonesia, baik konsumsi maupun investasi/tabungan, sega­lanya harus berkejar-kejaran dengan laju inflasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s