Produksi Emas Lebih Rendah dari Permintaan

Dalam kurun waktu seperempat abad (1980-2005), rekor tertinggi harga emas terjadi pada tahun 1980. Saat itu harga emas dunia men­capai US$ 873 per troy ounce. Sedangkan rekor harga terendah ter jadi pada tahun 1983, yaitu US$ 340 per troy ounce. Pada tahun 1980, nilai satu troy ounce emas dalam mata uang rupiah adalah sekitar Rp 800 ribu. Namun pada tahun 2008, emas dalam volume yang sama harganya sudah menjadi Rp 9 juta.

Tanpa pernah mengambil keputusan untuk melakukannya, du­nia telah kembali kepada suatu standar emas (Mohamad Ihsan Palaloi, 2007: hlm. 27). Sebab nilai persediaan emas terus meningkat, kendati volumenya mengalami penurunan. Pada tahun 1980 volume perse­diaan emas yang dimiliki dalam cadangan berbagai negara lebih se­dikit dibandingkan tahun 1971. Selama sembilan tahun, volume cadangan emas turun dari satu miliar troy ounce menjadi 931 juta troy once.

Tapi walau volumenya turun, nilainya ternyata mengalami kena­ikan. Sebab harga emas meroket menjadi lebih dari US$600 per troy ounce. Nilai 931 juta ons dengan harga US$600 per ons jauh lebih besar daripada sebelumnya. Nilai cadangan emas dunia pada tahun 1980 telah melonjak hampir US$600 miliar. Emas ini nilainya lebih dari setengah nitai cadangan total dari semua bank sentral.

Boks berikut ini menggambarkan sentra-sentra perdagangan emas di seluruh penjuru dunia. Di sanalah harga terbentuk. Harga emas di pasar-pasar tersebut menjadi acuan bagi harga emas di seturuh dunia.

Namun, perkembangan harian harga emas di bursa internasional lebih dipengaruhi oleh sentimen, isu, atau rumor jangka pendek. Bila kita ingin menganalisis harga emas yang sesungguhnya maka kita harus memahami keseimbangan antara penawaran dan permin­taan emas sedunia.

Menurut teori ekonomi, harga suatu komoditas ditentukan oleh keseimbangan antara supply dan demand. Jika suplai meningkat, sedangkan demand tetap, maka akan terjadi penurunan harga. Yang terjadi pada emas adalah sebaliknya; pertumbuhan suplai tak mampu mengejar pertumbuhan permintaan. Akibatnya, harga emas cende­rung naik dari waktu ke waktu.

Menurut Mohamad Ihsan Palaloi, dkk (2006: hlm. 51), faktor-­faktor yang memengaruhi suplai emas dunia adalah:
(a) produksi pertambangan emas
(b) pelepasan emas dari bank sentral
(c) reproduksi emas tua (scrap)

Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi demand emas dunia adalah:
(a) permintaan dari pabrik emas perhiasan
(b) permintaan dari pabik emas batangan
(c) permintaan pabrik emas untuk tujuan lain
(d) kebutuhan untuk investasi.

Dalam catatan Gold Fields Mineral Services (GFMS), total per­sediaan emas pada tahun 2003 adalah 4.133 ton. Dari jumlah terse­but, 2.061 ton berasal dari pertambangan emas di seluruh dunia, 591 ton dari official (misalnya bank sentral), dan 940 ton dari sisa proses lama. Dengan demikian, total persediaan emas yang berasal dari pertambangan menjadi sumber paling utama yang menyuplai lebih dari 60% emas yang digunakan setiap tahunnya, berikutnya dari produksi sisa, dan terakhir dari sektor official (Mohamad Ihsan Palaloi, 2006: hlm. 42-55).

Pertambangan menyuplai emas dengan dua cara, yaitu melalui produksi alami dan dari pengembalian penjualan. Saat ini yang pa­ling banyak melakukan eksplorasi pertambangan Amerika Serikat, Amerika Selatan, Rusia, dan Afrika. Negara lain yang juga sedang menggenjot pertambangan emasnya adalah Cina. Sebagai negara penghasil emas yang cukup besar, saat ini Cina semakin meningkat­kan produksinya guna menghadapi kemungkinan-kemungkinan pen­ting yang akan terjadi pada masa depan. Khususnya, kemungkinan krisis nilai tukar yang bisa menyebabkan resesi ekonomi.

Afrika Selatan, menurut GFMS adalah pemimpin produksi emas dunia. Negara itu mengontribusi 36 persen suplai emas dunia. Ken­dati demikian, industri emas di Afrika Selatan menghadapi masalah klasik seputar perburuhan. Juga ada kendala dalam pertambangan dan penyimpanan yang terlalu lama.

Selain Afrika Selatan, Amerika Serikat memproduksi 17 persen dari total emas dunia; kemudian Australia (13 persen) dan Kanada (5 persen). Negara-negara di Amerika Selatan mengontribusi 13 per sen dari total emas dunia, sedangkan produsen-prod usen di berbagai negara lain (termasuk Indonesia) memberi kontribusi 16 persen dari total produksi emas dunia.

Menyimpan emas sebagai investasi sekaligus pelindung aset dari inflasi, merupakan langkah yang bijak. Melihat perkembangan supply dan demand-nya, kecil kemungkinan terjadinya produksi yang berlebihan sehingga harga emas turun drastis. Walau menghadapi risiko fluktuasi harga jangka pendek, namun emas dalam jangka pan­jang tetap menjadi pilihan save heaven yang membuat investor bisa tidur nyenyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s